PEMANFAATAN LIMBAH ABU CANGKANG SAWIT (POFA) SEBAGAI PENGGANTI SEMEN PADA CAMPURAN BETON RINGAN UNTUK KONSTRUKSI JALAN BERKELANJUTAN

PEMANFAATAN LIMBAH ABU CANGKANG SAWIT (POFA) SEBAGAI PENGGANTI SEMEN PADA CAMPURAN BETON RINGAN UNTUK KONSTRUKSI JALAN BERKELANJUTAN
Universitas Teuku Umar
2024
14-12-2024
Indonesia
Meulaboh
Lap. Penelitian Dosen
Teknik
TEKNIK
TEKNIK
-
Ya

Pemanfaatan limbah industri sebagai material alternatif dalam konstruksi merupakan langkah strategis untuk mendukung pembangunan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penambahan limbah abu cangkang sawit (Palm Oil Fuel Ash/POFA) sebagai pengganti sebagian semen pada campuran beton ringan untuk konstruksi jalan yang berkelanjutan. Beton ringan direncanakan dengan berat jenis 0,8 gr/cm3 . Variasi campuran abu cangkang sawit yang digunakan adalah 5%, 10%, 15%, dan 20% dari berat semen dibandingkan dengan tanpa menggunakan abu cangkang sawit. Pengujian dilakukan untuk mengevaluasi sifat mekanik beton, khususnya kuat tekan, pada umur 7, dan 28 hari. Jembatan merupakan salah satu bangunan pelengkap sebagai prasarana penghubung antarruas jalan. Konstruksi jembatan terdiri dari bangunan atas, landasan, bangunan bawah, pondasi, jalan pendekat (oprit) dan bangunan pengaman. Oprit merupakan timbunan yang berfungsi sebagai penghubung antara konstruksi abutment dengan badan jalan. Oprit jembatan biasanya ditimbun dengan tanah timbun biasa atau timbun pilihan. Jembatan yang dibangun pada daerah tanah lunak, sering menimbulkan masalah pada saat jembatan digunakan yaitu penurunan. Penggunaan tanah timbun pada oprit jembatan juga berdampak terhadap lingkungan pengambilan material dan pada area pelaksanaan terutama konstruksi di tengah kota. Salah satu upaya mengatasinya adalah dengan menggantikan tanah timbun sebagai bahan utama dengan beton ringan berbahan limbah dengan memanfaatkan abu cangkang sawit sebagai pengganti sebagian semen. Beton ringan selain mampu menahan beban sesuai dengan standar kekuatan material timbunan, juga memiliki berat jenis yang lebih ringan dibandingkan dengan berat jenis tanah. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui persentase optimum abu cangkang sawit untuk mendapatkan beton ringan dengan kuat tekan 2 MPa sebagai kuat tekan standar untuk menggantikan tanah timbun pada jalan. Penelitian dilakukan pada Laboratorium Teknik Sipil UTU dengan bentuk benda uji silinder ukuran diameter 10 dan panjang 20 cm. Beton ringan merupakan campuran busa (foam agent) yang diproduksi oleh mesin pembuat busa (foam generator). Benda uji dibuat sesuai dengan standar SNI 03-3402-1994. Benda uji dibuat dalam 5 Variasi persentase jumlah abu cangkang sawit yaitu 0%, 5%, 10%, 15% dan 20%. Hasil uji tekan (f’c) umur 7 hari komposisi 0%; 5%; 10%; 15% dan 20% berturut-turut adalah 23.23 kg/cm2 ; 8.63 kg/cm2 ; 3.83 kg/cm2 ; 5.63 kg/cm2 dan 8.10 kg/cm2 , dan umur 28 hari masing-masing berturut-turut 25.29 kg/cm2 ; 12.21 kg/cm2 ; 5.12 kg/cm2 ; 7.38 kg/cm2 dan 9.98 kg/cm2 . Hasil ini menunjukkan bahwa penambahan abu cangkang sawit pada kadar 5% dan 10% menurunkan mutu beton ringan, namun pada kadar 15% dan 20% terjadi peningkatan kuat tekan. Peningkatan mutu pada kadar yang lebih tinggi diindikasikan sebagai hasil dari reaksi pozolan yang lebih optimal pada campuran beton. Mutu terendah terjadi pada komposisi 10% yaitu sebesar 5,12 kg/cm2, masih memenuhi ketentuan kuat tekan beton ringan sebagai bahan timbunan jalan. Sehingga, penggunaan abu cangkang sawit berpotensi untuk meningkatkan kualitas beton ringan dengan mengurangi penggunaan semen, sebagai bahan timbunan jalan dalam mendukung prinsip konstruksi jalan keberlanjutan.

edit_page


Untuk membaca file lengkap dari naskah ini, Silahkan Login.