POTENSI EKSTRAK BUAH PALA (Myristica fragrans) SEBAGAI AGEN ANTI KARIES DALAM PENGEMBANGAN ORAL STRIP-FILM

POTENSI EKSTRAK BUAH PALA (Myristica fragrans) SEBAGAI AGEN ANTI KARIES DALAM PENGEMBANGAN ORAL STRIP-FILM
Universitas Teuku Umar
2024
26-12-2024
Indonesia
Meulaboh
Lap. Penelitian Dosen
Pertanian
Pertanian
Pertanian
-
Ya

Pala (Myristica fragrans) merupakan tanaman asli Indonesia dan merupakan produk ekspor yang penting, karena Indonesia merupakan eksportir pala dan bunga pala terbesar, yang memasok sekitar 60% kebutuhan pala dunia. Aceh Selatan merupakan salah satu daerah penghasil pala di Indonesia. Selain menjadi produk ekspor, permintaan dalam negeri juga cukup tinggi. Pala terdiri dari daging buah (77,8%), bunga pala (4%), kulit (5,1%), dan biji (13,1%). Bagian biji merupakan komoditas utama yang dimanfaatkan dari tanaman pala. Sementara bagian lainnya umumnya tidak banyak dimanfaatkan. Hal ini menunjukkan adanya potensi dari hasil samping tanaman pala, terutama bagian buah pala yang merupakan komponen terbesar dari pala. Petani pala di Kabupaten Aceh Selatan, selama ini hanya menjual bagian dari biji serta fuli dari buah pala tersebut yang dijadikan sebagai rempah-rempah dan bahan parfum (Zakiah et al., 2015). Bagian daging buah terkadang diolah menjadi sirup dan manisan, namun tidak sedikit pula yang terbuang menjadi limbah. Buah pala telah dipelajari karena sifat antimikroba, anti-inflamasi, antioksidan, dan penyembuhannya, menjadikannya kandidat potensial untuk aplikasi kesehatan mulut. Ekstrak metanol dari berbagai bagian tanaman pala, termasuk buah dan bagian buahnya, telah menunjukkan kemampuannya dalam menghambat pertumbuhan bakteri penyebab plak gigi (Dewi et al., 2022). Berbagai studi telah dilakukan untuk menyoroti beragam efek farmakologis dari buah pala dan potensi penerapannya dalam kesehatan mulut dan pengurangan limbah. Kandungan buah pala berpotensi sebagai anti-karies dan melegakan sakit tenggorokan atau faringitis (Indrawan et al., 2022). Sifat antibakteri pada buah pala juga berpotensi menghambat mikroorganisme yang dapat menyebabkan plak dan bau mulut yaitu Streptococcus mutans. Berdasarkan data riset, persentase penduduk indonesia yang mempunyai masalah kesehatan gigi dan mulut tahun 2013 dan 2018 meningkat dari 25,9% menjadi 57,6%. Provinsi Aceh menunjukkan prevalensi penduduk bermasalah gigi dan mulut sebesar 56%, dan prevalensi terjadinya karies aktif pada penduduk Indonesia pada tahun 2018 adalah sebesar 45,3% dan pada provinsi Aceh sebesar 47% (Suryani, 2020). Adanya masalah kesehatan gigi dan mulut ini dimungkinkan dapat diatasi dengan produk olahan dari buah pala. Bentuk olahan buah pala yang tergolong inovatif ialah berupa oral strip-film. Dalam bentuk oral strip, lembaran tipis pembawa bahan aktif dengan mudah akan larut ketika bertemu dengan air liur. Oral strip memiliki beberapa keunggulan untuk menjaga kesehatan mulut, salah satunya yaitu mudah melepaskan bahan aktif ketika terkena air liur dan mudah dikonsumsi (Ramadhan dan Uci, 2022). Secara keseluruhan, oral strip merupakan metode yang nyaman dan efektif untuk menjaga kesehatan mulut dengan memberikan bahan aktif langsung ke rongga mulut. Penelitian ini bersesuaian dengan bidang fokus pangan-pertanian pada Renstra Penelitian UTU 2020-2024, yaitu teknologi pascapanen berupa penguatan agroindustri berbahan baku sumber daya lokal berupa buah pala. Pemanfaatan buah pala turut menunjukkan upaya untuk memanfaatkan teknologi terbaru dalam bidang agroindustri dalam menghasilkan produk yang lebih bernilai tambah. Tema penelitian juga beririsan dengan bidang fokus kesehatan dan obatobatan terkait teknologi kemandirian bahan baku obat melalui pengembangan fitofarmaka berbasis sumber daya lokal Aceh. Maka dari itu, penelitian ini sangat mendukung pencapaian rencana strategis penelitian yang dirancang oleh UTU

edit_page


Untuk membaca file lengkap dari naskah ini, Silahkan Login.